Sunday, August 4, 2013

Filled Under:

8 Masjid Tersepuh di Indonesia

Terlepas dari masih berbeda pendapatnya mengenai masuknya Islam di Indonesia [terdapat tiga pendapat, lihat disini] Islam telah mengakar dan membudaya di Negara ini. Sudah beratus-ratus tahun keberadaannya dan turun temurun masih dipertahankan, baik secara tradisi, peninggalan fisik, dsb.

Masjid adalah tempat ibadah Muslim yang dapat dijumpai diberbagai tempat di Indonesia. Menurut data Lembaga Ta'mir Masjid Indonesia, saat ini terdapat 125 ribu masjid yang dikelola oleh lembaga tersebut, sedangkan jumlah secara keseluruhan berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004, jumlah masjid di Indonesia sebanyak 643.834 buah, jumlah ini meningkat dari data tahun 1977 yang sebanyak 392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 600-800 ribu buah.

Dan Masjid menjadi salah satu peninggalan fisik yang sampai saat ini masih tetap di gunakan [sejatinya belum pantas di sebut peninggalan ya? kan belum ditinggalkan, dan semoga tidak]. kembali ke masjid, yang secara turun temurun menjadi sarana dan prasarana dakwah keislaman, melakukan peribadatan, menjadi pusat informasi dan pelbagai macam fungsi masjid baik secara sosial maupun spiritual.

Berikut 8 Masjid tertua yang sampai saat ini masih kokoh dan dapat di saksikan di Indonesia, yang telah berabad-abad masyarakatnya mayoritas menganut agama Islam.
(List berikut tidak berdasarkan tahun paling tua atau mana yang lebih dahulu dibangun, oleh karena itu tidak menggunakan simbol numerik)
  • Masjid Agung Demak



Berbicara Demak tak bisa lepas dari Masjid Agung Demak yang merupakan landmark Kabupaten Demak. Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali Sembilan atau Wali Songo.
Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara.

Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa.

Masjid ini dibangun pada abad ke-15 Masehi, oleh Raden Patah yang saat itu menjadi raja pertama dari Kesultanan Demak. Masjid ini dipercaya pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama atau wali agama Islam di Tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo.
Walisongo dan Raden Patah mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Gambar bulus ini terdiri dari kepala yang berarti satu, empat kaki yang berarti empat, badan bulus yang berarti nol, dan ekor bulus yang berarti satu. Dari simbol itu, diperkirakan bahwa Masjid Agung Demak berdiri tahun 1401. 

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.
Masjid Agung Demak dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.

  • Masjid Saka Tunggal


Disebut Saka Tunggal karena tiang penyangga bangunan masjid ini, dulunya hanya satu tiang (tunggal)Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, provinsi Jawa Tengah. Masjid ini dibangun pada tahun 1288 seperti yang tertulis pada Saka Guru (Tiang Utama) masjid ini. Namun, tahun pembuatan masjid ini lebih jelas tertulis pada kitab-kitab yang ditinggalkan pendiri masjid ini, yaitu Kyai Mustolih. Tetapi kitab-kitab tersebut telah hilang bertahun-tahun yang lalu.
Setiap tanggal 27 Rajab di masjid ini diadakan pergantian Jaro dan pembersihan makam Kyai Mustolih. Masjid yang berjarak ± 30 km dari kota Purwokerto ini.

  •  Masjid Wapauwe


Masjid Tua Wapauwe adalah masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1414 M.  Masjid yang saat ini masih berdiri dengan kokohnya, menjadi bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau.

Sekilas tidak ada yang terlalu istimewa dengan Masjid Wapauwe di Kaitetu, Maluku Tengah. Namun  bangunan yang dikenal sebagai masjid tertua di Maluku itu terbuat dari sagu. Bukti sejarah kebudayaan Islam di Maluku telihat jelas dari berdirinya masjid penuh dengan nilai sejarah di Kaitetu, Maluku Tengah. Masjid tersebut bernama Wapauwe dan sudah ada sejak abad ke-14.

Di luar keistimewaan Masjid Wapauwe sebagai rumah ibadah bersejarah, ternyata ada keunikan yang dimiliki oleh bangunan ini. Hampir semua material masjid berbahan baku yang berasal dari tumbuhan sagu.
Masjid ini dibuat tanpa paku, semen dan bahan material lainnya yang biasa digunakan oleh sebuah bangunan. Masjid Wapauwe berdinding gaba-gaba atau pelepah sagu yang dikeringkan. Atapnya diselimuti daun rumbia yang selalu dirawat dengan baik. Bangunan utama masjid berukuran hanya 10 x 10 meter saja. Namun, kemudian dibangunlah ruangan tambahan berukuran 6,35 x 4,75 meter.

Selain unik, rupanya masjid ini juga diselimuti mitos. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, dulu sebenarnya Masjid Wapauwe tidak terletak di Kaitetu, tapi di Tehala, desa yang berada di atas bukit dan tidak jauh dari Kaitetu. Masyarakat Tehala berpindah ke Kaitetu tentu tanpa membawa masjid tersebut.

  • Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhanatau Masjid Agung Cirebon) adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleksKeraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 M atau semasa dengan Wali Songomenyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan.

Menurut tradisi, pembangunan masjid ini dikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.


Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah utaraKeraton Kasepuhan. Masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkanWali Songo. Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak,Majapahit, dan Cirebon.
Kekhasan masjid ini terletak pada atapnya yang tidak memiliki memolo berupa kubah, sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa. Konon, dahulunya masjid ini berkubah. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.

Pada bagian mihrab masjid, terdapat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Konon, ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.
Pada saat awal pembangunan Masjid Agung Demak, adalah Sunan Gunung Jati yang memohon izin kepada para wali lainnya untuk membuat pasangan Masjid Agung Demak itu di Kota Cirebon. Jika Masjid Agung Demak dikatakan memiliki watak maskulin, maka Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dikatakan memiliki sifat feminin.

Gapura depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terbuat dari susuan batu bata merah bergaya Majapahitan. Atap Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berbentuk limasan dan tanpa mahkota masjid pada puncak bangunannya, tidak sebagaimana masjid wali lainnya yang beratap tajug atau piramid susun berjumlah ganjil.

Tiang di sebelah kanan yang disangga pelat baja adalah salah satu soko guru Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kabarnya dibuat oleh Sunan Kali Jaga dari tatal atau serpihan kayu yang disatukan.
Bagian beranda samping Masjid Agung Sang Cipta Rasa dengan tiang-tiang kayu berukir pada bagian atasnya yang terlihat sudah sangat tua. Berbeda dengan tradisi masjid pada umumnya, azan pertama saat ibadah shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini menggunakan ‘Azan Pitu’, yaitu 7 orang muazin mengumandangkan adzan secara bersama. Tradisi ini konon diwariskan oleh Sunan Kalijaga, saat sang wali mengusir wabah penyakit yang dikenal dengan nama Satria Menjangan Wulung.

Kayu ukir indah bertuliskan huruf-huruf Arab yang berada di bagian depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Meskipun terlihat tua dan kusam, namun ukiran kayu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini masih memancarkan keindahan seni ukirnya yang halus. Gentong-gentong penampung air di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sering digunakan Sultan untuk membasuh muka, tangan dan kaki sewaktu berwudlu, guna membersihkan diri sebelum melakukan shalat.

  • Masjid Agung Banten



Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Kasemen,Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang,ProvinsiJawa Barat.Bangunan masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah utara, barat, dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan benteng/keraton Surosowan di sebelah tenggara.

Masjid Agung Banten merupakan suatu kompleks dengan luas tanah 1,3 ha dan dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter. Pada sisi tembok timur dan barat masing-masing terdapat dua buah gapura di bagian utara dan selatan yang letaknya sejajar. Bangunan masjid menghadap ke timur berdiri di atas pondasi masif dengan ketinggian satu meter dari halaman.


Bangunan ruang utama berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 25 × 19 m. Lantai dari ubin berukuran 30 × 30 cm berwarna hijau muda dan dibatasi dinding pada keempat sisinya. Din-ding timur memisahkan ruang utama dengan serambi timur. Pada dinding ini terdapat empat pintu dengan lubang angin yang me-rupakan pintu masuk utama. Pimtu terletak di tengah bidang segi empat dari dinding yang menonjol beruku-ran 174 × 98 cm dengan dua daun pintudan kayu.Pintu bagian atas berbentuk lengkung setengah lingakaran. Lubang angin pada din-ding timur ada dua buah yang mengapit pintu paling selatan berbentuk persegi panjang dan didalamnya terdapat segi tiga berjajar terdiri atas dua baris dan diantarannya terdapat hiasan motif kertas tempel. Dinding barat tingginya 3,3 m memiliki tiga buah jendela berbentuk segi empat berukuran 180 × 152 cm dengan dua daun jendela berkaca buram. Lubang angin terdiri dari kumpulan segi tiga seperti dinding timur. Dinding barat tersebut berhiaskan pelipit rata, penyangga, setengah lingkaran,dan pelipit cekung. Dinding sisi utara membatasi ruang utama dengan serambi utara dengan sebuah pmtu masuk berbentuk empat persegi panjang berukuran 240 × 125 cm, berdaun pintu dua dan kayu. Jendela pada dinding utara dua buah dengan dua daun jendela berbentuk segi empat berukuran 180 × 152 cm. Sedangkan dinding selatan.hanya mempunyai satu pintu yang menghubungkan ruang utama dengan pawestren, terletak di dekat sudut barat dinding.



Tiang yang terdapat pada ruang utama berjumlah 24 buah terdiri dan empat buah tiang utama dan 20 buah tiang penyangga. Tinggi tiang lama 11 meter terbuat dari kayu jati dengan delapan tanpa hiasan. Tiang-tiang yang lain tingginya berbeda. Tiang yang mempunyai ketinggian 7,30 m ada delapan buah, sedangkan sisanya 12 buah berukuran tinggi 4,40 m Tiang berdiri di atas umpak dari batu andesit berbentuk buah labu. Umpak tiang mama tingginya 50 cm dengan pelipit rata pada bagian atas dan bawahnya. Umpak-umpak yang ruang utama tersebut bervariasi dengan bagian bawah dihiasi oleh pucuk daun yang mengarah ke bawah dan ada pula hiasan daun tumpang tindih.

Mihrab berdiri di atas pondasi padat dengan ketinggian 90 cm. Ruangan berukuran 196 × 90 cm, lantainya dari ubin dan tingginya 2 cm lebih tinggi dan lantai masjid. Tinggi bagian muka 206 cm dan tinggi bagian belakang 106 cm. Dinding mihrab berwarna kuning tanpa jendela. Bagian muka terdapat dua buah tiang semu di kiri dan dua buah di kanan berbentuk balok. Tiang berdin di atas pelipit rata yang mengelilingi seluruh ruangan masjid. Tinggi tiang semu 162 cm. Di atas tiang tersebut terdapat pelipit rata dan setengah lingkaran. Badan mihrab mempunyai hiasan berupa bingkai rata yang letaknya 167 cm dari lantai serambi. Atap mihrab berbentuk setengah lingkaran dan di mukanya terdapat bingkai setengah lingkaran yang disangga oleh kedua tiang semu.



Mimbar Masjid Agung Banten letaknya satu meter dari dinding barat, dan pada pondasi padat setinggi 90 cm. Bentuk pondasi empat persegi panjang berukuran 385 × 194 cm. Bagian bawah terdapat dua buah lubang arah utara selatan. Tangga terdapat di muka dan terdin anak tangga. Diujung bawah tangga terdapat batu hitam bentuknya seperti pot bunga. Mimbar berdenah empat persegi panjang berukuran 93 × 170 cm dengan dinding di sisi utara, barat, dan selatan. Di depan dinding utara dan selatan terdapat pipi dinding tubuh yang berhiaskan bingkai. Dalam mimbar terdapat tempat duduk dengan injakan kaki setinggi 16 cm. Pada sisi luar dinding tubuh mihrab terdapat hiasan dalam bidang segi empat sebanyak tiga buah di sisi utara selatan. Dinding bagian bawah berisi teratai mekar, tengah motif bingkai cermin, dan bagian atas berisi motif oval yang di dalamnya ada lubang berbentuk daun semanggi. Pada setiap sudut panil terdapat hiasan daun yang diapit oleh semacam lukisan binatang. Di atas panil terdapat susunan pelipit dan di atas pelipit tersebut terdapat bidang persegi panjang di sisi utara, timur, dan barat, serta berhiaskan pilin ganda dengan posisi saling berhadapan, bunga, dan daun-daunan. Pada bagian atas muka mimbar terdapat penampil berbentuk lengkung di sisi timur dan di dalamnya ada tulisan Arab.

  •  Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah bisa menjadi nilai tambah tersendiri ketika mengunjungi Pasar Terapung Kuin di Sungai Barito. Masjid yang terletak di tepian Sungai Kuin ini memang searah dengan Pasar Terapung Kuin jika kita berangkat dari Kota Banjarmasin. Jadi tidak akan rugi kalau sekali mendayung tiga pulau terlampaui kan? Masjid ini menurut catatan sejarah dibangun di era Kerajaan Banjar di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550). Beliau adalah Raja Banjar pertama yang menganut agama Islam. Diperkirakan usia masjid ini sudah mencapai angka 450 tahun dan termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia.

Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur tradisional khas Banjar. Konstruksinya serupa rumah panggung dengan atap tumpang. Di berbagai sudut bangunan kita juga dapat melihat ornamen-ornamen ukiran khas Banjar menghias dengan indah. Jika diperhatikan sekilas, konstruksi masjid ini mirip dengan Masjid Agung Demak. Hal itu mungkin karena dalam perjalanan sejarahnya Kerajaan Banjar pernah mendapatkan bantuan dari Kerajaan Demak dalam peperangan melawan Kerajaan Daha. Inilah awal masuknya Islam ke Kerajaan Banjar.

Arsitektur, ornamen, ukiran, sampai warna yang khas memang membuat masjid ini sangat unik. Apalagi ditambah dengan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, masjid ini sangat layak untuk dikunjungi. Sayang sekali dalam kunjungan ke sini saya tidak sempat melihat-lihat ke bagian dalam karena waktu itu saya perhatikan belum ada penjaganya yang membuat saya agak ragu untuk melangkah ke dalam. Namun menyaksikan dari luar saja sudah merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya dapat menyaksikan salah satu saksi bisu perjalanan bangsa ini.

  • Masjid Menara Kudus

Meskipun kudus sering diidentikkan sebagai kota kretek, namun masyarakatnya  lebih bangga menjadikan Masjid menara kudus sebagai simbol atau ikon kota kudus. Masyarakat kudus sangat bangga terhadap masjid peninggalan Syekh Jafar Sodiq ini.

Masjid ini didirikan pada tahun 1549 M atau 956 H. pendirinya adalah syekh jafar sodiq yang lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Batu pertama yang diletakan untuk membuat masjid ini didatangkan dari baitul maqdis atau palestina. Sejarah berdirinya masjid menara kudus terbukti sangat jelas dengan prasasti berbahasa arab yang menerangka empat hal yaitu masjid berdiri pada tahun 956H, pendirinya ja’far sodiq, bernama al aqsa, dan di daerah al quds. Sayangnya, tulisan pada inskripsi itu sudah sulit dibaca karena banyak huruf yang rusak. Konon, batu inskripsi itulah yang dibawa oleh Sunan Kudus dari Yerusalem. Lebarnya 30 sentimeter dan panjangnya 46 sentimeter.

Denys Lombard pernah menulis bahwa Kota Kudus mengambil nama dari Al-Quds, nama lain dari Yerusalem yang artinya kota suci. Di kota inilah Masjid Menara Kudus berdiri. Keberadaannya melambangkan secara visual peralihan kepercayaan masyarakat dari Hindu-Buddha ke Islam.

Kalau dicermati secara saksama, bentuk menara masjid sangat mirip dengan candi. Banyak pengamat memberikan komentar seputar bentuk menara yang unik itu. Ada yang mengatakan bentuknya mirip dengan candi-candi di Jawa Timur pada masa Majapahit dengan penambahan beberapa bagian sesuai dengan fungsinya.

Ada pula yang berpendapat, beberapa gapura di sekitar menara yang bentuknya mirip bangunan kulkul di Bali, mengindikasikan menara itu tidak hanya dipengaruhi candi-candi di Jawa Timur. Di dalam kulkul terdapat kentungan yang dipukul untuk menyampaikan informasi kepada penduduk sekitar.

Hal yang sama juga terdapat di Menara Kudus. Di bagian atas menara ini, diletakkan bedug dan kentungan yang dipukul sebagai tanda datangnya waktu-waktu tertentu. Pendapat yang kedua ini menegaskan bahwa Menara Kudus terpengaruh oleh arsitektur Hindu Bali.

Bangunan menara, sebagai salah satu elemen yang menonjol, mengadopsi model bangunan ibadah umat Hindu dan Budha. Bangunan menara, tersusun dari batu bata dengan bagian kepala menara berbentuk atap tumpang atau tajuk dari kayu jati dengan empat saka guru. Dibagian atas menara, diletakkan bedug dan kentongan sebagai pertanda waktu dan even tertentu. Nah, di Kudus dikenal tradisi “dandangan”, sebuah tradisi menandai diawalinya puasa Ramadhan dan pada saat itulah bedug dan kentongan itu dibunyikan.



  • Masjid Sunan Ampel

Berbicara sejarah masjid tentu tidak akan luput dari Masjid Sunan Ampel, Meningat penyebaran Islam di ranah Jawa dan Indonesia bermuara dari Masjid yang terletak di Jawa Timur ini.

Masjid Ampel terletak di tengah jantung kampung Arab. Tepat di sebelah utara Jl. Nyamplungan dan tepat di belokan kiri kedua Jl. Sasak. Keramaian tukang becak yang setia mengantar para peziarah akan mudah dijumpai di sepanjang jalan menuju masjid.

Memasuki gapura Jl. Ampel Suci masuk ke areal masjid, Anda akan disambut dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan beraneka barang sebut saja seperti parfum, sarung, peci, dan berbagai perlengkapan ibadah umat muslim. Tak ketinggalan para pengemis yang meminta sedekah dari para peziarah.

Masjid ini adalah masjid yang paling terkenal dan suci bagi umat Muslim di Surabaya, setelah Masjid Akbar Surabaya. Tepat di belakang masjid, adalah kompleks makam dari Sunan Ampel yang meninggal pada 1481. Sunan Ampel adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Menurut Encyclopedia Van Nedelandesh Indie, beliau datang dari Champa, negeri yang terletak di Kamboja. Tapi, menurut Raffles, Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut silsilah, Sunan Ampel merupakan anak dari Maulana Malik Ibrahim, sementara kakek beliau berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.


Masjid ini dibuat dengan kecermatan. Lima pintu gerbang mengelilingi masjid ini sebagai simbol Rukun Islam. Pintu gerbang pertama diberi nama "Gapura Munggah" merupakan simbol Rukun Islam yang kelima yaitu Haji - wajib berhaji jika mampu. Di dekat sini terdapat pasar yang mirip pasar seng di Arab. Setelah melewati lorong pasar, sobat akan menemukan "Gapuro Poso" (puasa), menggambarkan kewajiban kaum muslim untuk berpuasa.
Melewati Gapuro Poso, sampailah di halaman masjid. Setelah menunaikan ibadah sholat, Gapuro Ngamal akan bisa sobat temukan. Gapura ini mengingatkan umat muslim untuk berzakat. Disini sobat bisa bersedekah untuk biaya perawatan masjid. Tak jauh dari situ terlihat Gapuro Madep. Di bagian kanan gapura ini terdapat makam Mbah Shanhaji yang dulunya menentukan kiblat masjid Sunan Ampel. Makna gapura ini adalah pelaksanaan shalat lima waktu. Terakhir, ketika memasuki makam, terdapat Gapuro Paneksen yang menggambarkan kalimat syahadat

Dinuqil dari beberapa sumber, Semoga bermanfaat
#Islamgram

0 komentar:

Post a Comment