Showing posts with label Yang Terserak dan di Folderkan. Show all posts
Showing posts with label Yang Terserak dan di Folderkan. Show all posts

Thursday, July 2, 2015

, ,

MENU SEHAT PENDERITA MAAG (SAAT PUASA)

Ahh..Kamu Maag *eh maaf salah topik kalau itu*

Bagaimana  kabar puasanya sobat #IslamGram ? Lancar? semoga Allah selalu memberikan kelancaran dalam ibadah puasa kita. 


Ada beberapa saudara kita yang mengalami sakit Maag, diantaranya ada yang akut, bahkan ada yang sampai tak kuat berpuasa. Sebenarnya bagaimana menyiasati agar penderita maag dapat tetap menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan?

SEKILAS PENYAKIT MAAG

Penyakit maag adalah penyakit yang ditimbulkan oleh kelebihan asam yang diproduksi oleh lambung yang menyebabkan iritasi di selaput lendir lambung, dalam kondisi normal asam diperlukan untuk membantu pencernaan dalam mengolah makanan yang kita makan, selain dari kelebihan asam lambung sakit maag atau radang lambung atau tukak lambung adalah gejala penyakit yang menyerang lambung dikarenakan terjadi luka atau peradangan pada lambung yang menyebabkan sakit, mulas, dan perih pada perut selain akibat dari radang lambung. 

Sakit? Tentu saja, namanya juga penyakit.

Bagi anda yang tidak mempunyai masalah gangguan kesehatan, maka tidak ada alasan untuk tidak berpuasa, namun bagimana jika ada diantara anda yang mempunyai masalah gangguan kesehatan untuk menjalani puasa terutama bagi penderita penyakit maag.

Sebenarnya maag bukanlah suatu alasan yang mendukung bagi anda untuk tidak berpuasa, dengan tips berpuasa sehat bagi penderita maag yang sehat berikut ini maka puasa di bulan ramadhan bisa anda jalani tanpa harus takut maag anda kambuh, hal ini sudah didukung oleh beberapa penelitian yang menyatakan bahwa puasa itu tidak menyebabkan penyakit maag kambuh yang perlu diperhatikan yaitu memilih jenis makanan sehat yang tidak dapat memicu maag kambuh.
 
HINDARI 
 
Jika Anda memiliki riwayat maag, cobalah untuk menghindari makanan dan minuman berikut ini: 
  • Makanan gorengan, serta makanan yang terlalu asam 
  • Hindari makanan pedas terutama yang mengandung tomat, sebab tomat mengandung banyak asam 
  • Makanan yang terlalu manis (banyak gula) 
  • Hindari makanan berlebihan saat berbuka dan sahur serta jangan sampai telat berbuka puasa 
  • Hindari kopi, teh dan rokok serta obat-obatan yang dapat melukai dinding lambung.
 
REKOMENDASI 
 
Berikut beberapa makanan yang dapat direkomendasikan untuk penderita maag, guna membantu menghindari munculnya gejala maag:

  • Makanan yang mengandung karbohidrat saat sahur 
  • Beberapa jenis buah-buahan seperti pisang
  • Konsumsi jenis kacang-kacangan seperti almond 
  • Saat berbuka puasa mulai dengan makanan porsi kecil 
  • Jangan lupa untuk mengkonsumsi obat-obatan yang wajib saat sahur dan berbuka puasa

berbagai sumber : 
 
#IslamGram

Wednesday, July 1, 2015

,

MINUMAN BERBUKA PUASA

Tak dapat dipungkiri, ketika berpuasa asupan cairan tidak di terima tubuh. Ya jelaslah, kalau menerima asupan itu nanti batal hehehe...

Ketika bedug magrib di tabuh dan berdentam, setelah membaca doa berbuka puasa (hayo do'a nggak kalau mau buka?) gelas adalah benda pertama yang di saut, atau sendok yang mengangkut asupan es teler untuk masuk kedalam tubuh. Air...ya air, tubuh begitu dahaga dengan air, tak apa belakangan makan ayam bakar, kue lezat atau pelbagai hidangan lain, asal jangan menomor sekiankan air.

MINUMAN BERBUKA PUASA, YANG BAIK DAN SEHAT

Saat berpuasa, gula darah dipastikan akan menurun. Pasti teman-teman ada yang merasakan pusing, berkeringat dingin, dan lemas bukan saat baru pertama menyantap hidangan berbuka? Agak-agak kaget gitu hehe...

Saat berbuka tubuh perlu memakan makanan manis untuk meningkatkan Indeks Glikemik (IG) di dalam tubuh. 
 
IG merupakan ukuran kecepatan makanan diserap menjadi gula darah. Semakin tinggi indeks glikemik suatu makanan, semakin cepat dampaknya terhadap kenaikan gula darah. Namun meskipun dikatakan tubuh perlu makanan dan minuman manis saat berbuka, bukan berarti akan menjadi sehat jika terus mengonsumsi makanan atau minuman manis tersebut. 
 
 
Contoh minuman yang baik untuk berbuka dan sudah sering disajikan adalah teh manis. Teh manis perlu dibuat dengan komposisi yang tepat agar manisnya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sebaiknya setiap 200 cc air hangat, maksimal menggunakan 1 sendok makan gula pasir. Jika gula pasirnya lebih dari jumlah ini, maka IG-nya pun akan menjadi berlebihan.

Adapula alternative lain pengganti teh manis, Menurut pakar spesialis gizi, jika memungkinkan sebaiknya pilihlah air kelapa murni untuk berbuka puasa. Air kelapa murni mengandung elektrolit yang baik untuk tubuh setelah seharian tidak mendapat cukup asupan cairan. Air kelapa yang diminum juga sebaiknya tidak perlu ditambahkan gula pasir, lebih baik yang alami. Jika memang ingin cita rasa yang lebih manis, ada baiknya menggunakan madu atau gula aren sebagai pengganti gula pasir.
 
Jus buah bisa juga menjadi minuman pilihan untuk berbuka puasa. Selain menyegarkan, jus buah juga bermanfaat untuk kesehatan dan mampu mengembalikan energi juga membuat tubuh kembali terhidrasi dengan baik. 

MINUM ES
 


Menurut kesehatan, meminum es menimbulkan efek kenyang, Padahal saat berbuka adalah waktu yang tepat untuk memberi nutrisi pada tubuh. Jadi sebaiknya jangan dibuat kenyang duluan hanya dengan minum es. Sebenarnya tidak ada masalah meminum es saat berbuka, asal tidak berlebihan, sekedarnya saja. Usahakan untuk terlebih dahulu menstabilkan lambung dengan memulai berbuka dengan minuman yang hangat atau tidak dingin.
 
diolah dari berbagai sumber
 
#IslamGram
 

Wednesday, June 24, 2015

, ,

RESEP MASAKAN SAHUR, TIPS MEMILIH MAKANAN AGAR TAK MUDAH LEMAS

Berpuasa identik dengan sahur, persiapan sarapan yang di dahulukan agar badan tetap bugar saat beraktivitas saat siang. Sering kita makan banyak saat sahur namun ternyata lemas dan terasa lapar saat siang, atau ada pula yang justru makan sedikit, lemas juga ujungnya. Bulan puasa seharusnya tidak menjadi halangan bagi kita untuk menjalankan aktivitas harian. bukan begitu?

Makanan apa yang memberikan asupan tenaga berjangka panjang? atau bagaimana tips sahur yang baik untuk energi tubuh? let's cekidot



Sebenarnya, Cara makan sahur lah yang harus diatur agar kesehatan tetap terjaga selama berpuasa. Kondisi tubuh harus diperhatikan agar tidak kurang cairan dengan minum air yang cukup selama menjalankan ibadah puasa. 

Berikut tips yang di nuqil dari pesona.co.id

Meski sahur dilakukan di pagi-pagi buta, bukan berarti Anda menyantap makanan asal jadi. Sebab, sahur ternyata jauh lebih penting ketimbang berbuka puasa. Tubuh Anda harus dibekali nutrisi yang cukup hingga saat berbuka. Bagi Anda yang menginginkan tubuh yang fit selama berpuasa, coba tip berikut ini:

1. Mulailah sahur dengan meminum segelas air putih. Selama puasa tubuh akan banyak kehilangan cairan. 

2. Buah-buahan adalah menu yang baik untuk sahur dan juga untuk berbuka. Buah-buahan mengandung elektrolit yang memberi kesegaran pada tubuh dalam beraktivitas.  

3. Selama puasa, zat besi dalam tubuh akan menurun karena berkurangnya jumlah sel darah merah dalam tubuh. Akibatnya tubuh akan lebih lemas, mengantuk karena pasokan oksigen yang dibawa sel darah merah tidak maksimal.  Mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi saat sahur akan mengontrol kadar hemoglobin dalam tubuh, salah satunya dengan mengonsumsi jus tanpa gula. 

4. Pilihlah karbohidrat kompleks, seperti nasi merah ketimbang nasi putih, atau roti gandum ketimbang roti putih, karena akan membuat gula darah stabil seharian, juga bijaklah mengonsumsi makanan yang manis dari gula pasir. Makanan yang manis akan membuat Anda cepat lapar. Makanan yang mengandung banyak gula akan membuat tubuh berekasi melepaskan insulin dengan cepat. Sehingga tubuh akan meminta asupan energi baru, karena itu Anda akan cepat merasa lapar. Pilihlah manis alami, seperti gula aren atau madu. 

5. Untuk lauknya Anda bisa menambahkan lauk yang kaya protein nabati dan hewani, seperti tempe, tahu, kacang-kacangan dan daging atau ikan. Agar tidak bosan, Anda bisa berimprovisasi dengan menu sahur untuk menggugah selera. Misalnya roti gandum dengan telur rebus dan daging asap, pasta dengan keju, brokoli rebus, dan ikan tuna. Coba juga kentang panggang dengan brokoli, keju, dan daging asap, serta sup hangat. 

6. Hindari menggoreng menu sahur. Makanan yang digoreng menyebabkan ikatan oksigen berkurang sampai 20 persen. Ini dapat menimbulkan rasa kantuk sepanjang hari.

7. Sempurnakan sarapan sahur  dengan mengonsumsi makanan yang juga mengandung magnesium dan potassium yang bisa Anda temukan pada pisang, jeruk, dan kacang almon. Magnesium membantu tubuh memproduksi energi untuk beraktivitas sepanjang hari. 
 
 #IslamGram
, ,

RESEP MENU BUKA PUASA, YANG MENYEHATKAN

Buka puasa, eemmm...waktu yang selalu di nanti-nantikan. Bahkan setengah jam sebelum waktunya seakan melambat dan ber slow-motion ria, padahal ya kitanya yang memang tak sabar. 

Dan saat bedug berdentam, rasanya seperti gelora kemenangan tak terperikan. Euforia menyikat habis hidangan sering kita lakukang, ckckc....akibatnya, perut terasa begah. Tarawih jadi ogah-ogahan. Masya Allah.

Kuncinya adalah menahan diri, bukankan puasa intinya adalah untuk belajar menahan diri?

Bicara soal resep menu buka puasa, bagaimana sih makanan yang sehat untuk berbuka? asupan-asupan yang terbaik yang semestinya kita siapkan dalam sajian menu buka puasa . Aneka hidangan menu untuk berbuka puasa yang baik sudah tentu adalah makanan yang sehat, itu sudah patokan bukan?

Buah adalah urutan pertama untuk disegerakan, setelah membasahi tenggorokan dengan air putih (bukan air es) atau teh hangat. Buah kurma, pisang, pepaya, mangga, melon, semangka, kiwi, apel, air buah kelapa atau banyak jenis buah-buahan lainnya sangat ideal sebagai menu takjil atau menu yang disegerakan untuk berbuka puasa. Buah-buah yang bersifat mudah dicerna dan menawarkan tubuh berbagai nutrisi yang dapat membantu transisi antara masa berpuasa dan berbuka menjadi terasa mudah. Selain itu penting untuk diperhatikan adalah konsumsi air putih, usahakan dari saat buka puasa sampai saat sebelum tidur minimal minum 1 liter air.

Selanjutnya bagaimana dengan menu makan setelah berbuka puasa? Jika sebelumnya kita telah mengkonsumsi buah-buahan segar atau kombinasi lainnya dari menu takjil untuk berbuka puasa, maka hidangan sehat lainnya yang disarankan dalam menu buka puasa diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Sayuran hijau karena selain mudah dicerna dan memiliki kandungan alkalin yang tinggi sehngga sangat ideal untuk memaksimalkan kesehatan kita.
  • Biji-bijian dan kacang-kacangan merupakan sumber protein yang baik dan mudah dicerna. Biji bunga matahari, biji waluh atau labu, walnut (sumber omega-3), almond, kacang mete, kemiri, kacang tanah, kacang Brazil, kacang hijau dan kacang macadamia merupakan bahan makanan yang tepat dimakan setelah berpuasa.
  • Beras merah berbeda dengan beras putih karena bagian kulit pada beras merah masih utuh. Para ahli gizi dan ahli diet merekomendasikan nasi merah sebagai sumber nutrisi.
  • Oat juga ideal untuk dimakan untuk berbuka puasa. Memakan oat membawa banyak manfaat, dan khususnya setelah berpuasa. Makan satu sajian oat memberikan tubuh vitamin E, zinc, selenium, tembaga, besi, mangan, protein dan magnesium.

JENIS MAKANAN YANG SEHAT UNTUK BERBUKA  
Berbuka puasa merupakan saatnya untuk mengembalikan cadangan energi, menurut klikdokterdotcom makanan yang sebaiknya dikonsumsi adalah:

  • Serat
    Biasanya saat bulan Ramadan, kurma dikonsumsi sebagai simbolis saat berbuka puasa. Selain merupakan sumber energi yang baik, kurma juga kaya akan potassium yang dapat membantu fungsi otot dan saraf agar bekerja dengan baik. Tetapi, hati-hati juga agar jangan mengkonsumsi kurma terlalu banyak karena kurma tinggi akan gula.
  • Karbohidrat
    Roti gandum, nasi merah atau mi yang terbuat dari gandum merupakan karbohidrat kompleks yang dapat memberikan tubuh energi, serat dan mineral. Jika dibandingkan dengan makanan tinggi gula atau dessert yang dibakar lebih cepat.
  • Protein
    Sumber protein tinggi seperti ayam (tanpa kulit), ikan, telur atau kacang-kacangan dapat dipilih sebagai menu berbuka puasa. Untuk menjaga makanan Anda tetap sehat, batasi penggunaan minyak dan beralih ke rebus-rebusan, bakar atau panggang. Saat memilih minyak, pilihlah minyak yang tinggi akan lemak tak jenuh

Dan yang terpenting adalah tidak berlebihan dan terburu-buru. Akan menjadi percuma jika menunya sehat namun cara menikmatinya dengan cara yang salah bukan?

BAGAIMANA BERBUKA PUASA ALA RASULULLAH SAW ?

#IslamGram

Sunday, June 21, 2015

, ,

SETAN, DI BELENGGU DI BULAN RAMADHAN



Sering kita mendengar dalam pelbagai redaksi atau saat da'i berceramah bulan ramadhan mengenai setan yang di belenggu saat bulan ramadhan. Keterangan tersebut berdasarkan hadist, yang salah satu redaksinya adalah sebagai berikut : 

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Jika malam pertama Romadhon datang, maka setan-setan, dan jin-jin durhaka dibelenggu; pintu-pintu neraka ditutup. Maka tak ada satu pintu(nya) pun yang terbuka; pintu-pintu surga dibuka. Maka tak ada suatu pintu pun yang ditutup; Seorang pemanggil memanggil,”Wahai pencari kebaikan, menghadaplah; wahai pencari kejelekan, berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang dimerdekakan dari neraka. Demikian itu pada setiap malam”. 
[HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (682), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1642). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1960) ]

Para ulama berbeda (pendapat) mengenai makna dibelenggunya setan-setan pada bulan Ramadan, menjadi beberapa pendapat:

Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat seraya menukil dari Al-Hulaimy: “Kemungkinan maksudnya adalah para setan tidak bersungguh-sungguh menggoda kaum muslimin, sebagaimana yang mereka lakukan di bulan lainnya, karena kesibukan (manusia beribadah). (Atau) yang dimaksud para setan (yang dibelenggu) adalah sebagian mereka, yaitu dari jenis pembangkang di antara mereka, (atau yang dimaksud) dibelenggu adalah dibelenggu dengan puasa yang berfungsi menekan dorongan syahwat, atau dengan bacaan Al-Qur’an dan dzikir.

Yang lainnya (selain Al-Hulaimy) berkata, maksud dibelenggu adalah diikat dengan rantai. Iyadh berkata: Ada kemungkinan maknanya sesuai zahir dan hakekatnya. Yaitu sebagai tanda bagi para malaikat akan masuknya bulan Ramadan, agar mereka mengagungkan kesuciannya dan melarang para setan mengganggu kaum beriman. Kemungkinan juga (maknanya) sebagai simbol banyaknya pahala dan pengampunan. Dan berkurangnya gangguan setan, sehingga seakan-akan mereka dibelenggu. Dia Berkata, yang menguatkan kemungkinan kedua ini adalah ungkapan dalam riwayat Yunus dari Ibnu Syihab dalam riwayat Muslim, (yaitu ungkapan) 'Pintu-pintu rahmat dibuka'. Dia juga berkata, bahwa kemungkinan (makna) dibelenggunya setan adalah simbol dilemahkannya (setan) dalam menggoda dan menghias syahwat. Zain bin Munayyir berkata, 'Pendapat pertama (makna dibelenggu secara zahir) lebih tepat. Lafaz ini tidak perlu dialihkan dari zahirnya.' (Fathul Bari, 4/114)


Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (7/310), “Makna hadits ini menurut saya –Cuma Allah yang lebih tahu-: Allah melindungi di dalamnya kaum muslimin, atau dominannya dari maksiat-maksiat. Jadi, setan tidak akan bebas datang kepada mereka sebagaimana mereka bebas datang di sepanjang tahun”.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam “Setan-setan dibelenggu” padahal kita lihat ada orang-orang yang dapat kerasukan (jin) pada siang hari Ramadan, bagaimana setan-setan dibelenggu (sementara) sebagian orang ada yang kerasukan (jin)?

Beliau menjawab dengan mengatakan: “Dalam sebagian riwayat hadits (disebutkan) “Setan-setan pembangkang dibelenggu (di bulan Ramadan)” atau “diikat”, yaitu dalam riwayat Nasa’i.


Hadits seperti ini termasuk perkara ghaib, sikap orang muslim adalah menerima dan membenarkannya. Dan tidak kita memperbincangkan (apa kenyataan sesungguhnya) di balik itu. Karena sikap tersebut lebih menyelematkan agama seseorang dan lebih bagus akibatnya. Oleh karena itu ketika Abdullah bin Imam Ahmad berkata kepada bapaknya: “Sesungguh orang kerasukan (jin) pada bulan Ramadan (maksudnya mengapa sampai terjadi padahal katanya setan dibelenggu)”. Imam Ahmad berkata: Begitulah hadits ini dan jangan membicarakan (lebih dalam masalah) ini.


Tampaknya, yang dimaksud 'dibelenggu' adalah dibelenggunya setan dari upayanya menyesatkan manusia, dengan dalil banyaknya kebaikan dan orang yang bertaubat kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan." (Majmu Fatawa, hal. 20)

Kesimpulannya, (makna) setan dibelenggu adalah bersifat hakiki (nyata), Allah yang lebih mengetahui tentang hal tersebut. Dan hal itu tidak harus berarti bahwa kejelekan dan kemaksiatan tidak terjadi di antara manusia. Wallahu’alam

 
#IslamGram

Tuesday, June 16, 2015

MENGHIRUP UDARA RAMADHAN




Puasa ramadhan, Ibadah yang amat tinggi nilainya. Karena bulan tempat Ibadah tersebut di helat adalah bulannya manusia. Bulan dimana manusia di manjakan dengan pelbagai kemurahan pahala yang Allah tikel-tikel- kan.

Ketika bulan sya’ban menuju penghujung, Segenap umat Islam berharap-harap cemas. “Mampukah nafas ini menghirup aroma ramadhan? Atau hanya sampai sya’ban tahun ini saja?”. Mereka sangat tak ingin “kehilangan jatah” sekedar menghirup desir teduh angin ramadhan. Pria, wanita, tua, muda, bahkan anak-anak larut, haru dan bahagia ketika senja di akhir sya’ban telah meliwati adzan magrib. Atau ketika Departemen Agama telah memutuskan kapan jatuhnya ramadhan tahun ini.

Di pengeras suara masjid, langgar atau musholla suara speaker bersahut-sahut, Intensitas suara dari tempat ibadah tersebut meningkat. Bedug tak ingin kalah. Suara dentam seakan ia keluarkan sekeras-kerasnya, mengundang umat untuk datang. Salat tarawih di helat, kumandang bilal, suara fatihah imam…subhanallah. Sejuk sekali rasanya udara ini kita sesap. Dan…waktu sahur, ya kita benar-benar sahur dan memasuki bulan puasa.

Hal-hal seperti itu begitu terasa diawal ramadhan. Bukan begitu?

Anak-anak kecil pun tak ingin kalah menyambut moment ramadhan ini. Mereka tak ingin hanya berdiam tanpa peran. Hampir setiap kegiatan ramadhan di sesaki anak-anak kecil, mereka juga ingin “eksis” di hadapan Rabb-nya. Dari waktu sahur ampai berbuka mereka tak absen mengisi “daftar hadir”, pun ketika terawih. Moment ramadhan seperti ajang berkumpulnya anak-anak di tempat-tempat ibadah. Pusat keriuhan pada bulan ini berpindah ke masjid atau musholla, koordinatornya adalah anak-anak itu tadi, adalah mereka yang ternyata membantu pengeras suara meneriakkan “aaamin” dari rakaat awal hingga akhir. Semacam pemantik bagi kaum tua untuk tetap semangat. Anda pernah eksis pada moment itu? Tersenyumlah.

Bulan ramadhan memang magis, orang-orang tak perlu di cekok-i dalil dalil oleh para penceramah tentang ini dan itu. Mereka seperti tergerak oleh magis ramadhan. Tak memperhitungkan berapa pahala yang di dapat, yang penting bergerak secara sadar saat ramadhan hadir. Gambaran ikhlas yang sesungguhnya? Atau karena gengsi? Entahlah, wallahu a’lam, seng penting ngibadah. Yang biasanya agak kendor dalam hal-hal wajib, saat ramadhan pasti akan “mikir-mikir”, dalam hati seakan ada bisiskan “masa iya puasa tapi nggak solat? Masa iya puasa tapi maksiat? Rugi jika tidak menyempurnakan pahala puasa, kan?” dan pelbagai suara hati lainnya. Suara yang mendorong praktek yang nyata untuk dilakukan.

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Ada dua kebahagiaan yang diperuntukkan bagi orang yang berpuasa; kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (Bukhari dan Muslim)


Ramadhan…Oooh…Ramadhan…Kami tidak perlu berdo’a mengharap di beri barokah layaknya mengharap berkah rajab dan sya’ban. Sampai padamu dan menghirup udaramu sudah merupakan berkah yang, nilainya masya allah sekali. Begitu magisnya dirimu. Tak salah pabila ada yang mengatakan  sungguh rugi orang islam yang melewatkan begitu saja bulan ramadhan.
Mungkin, jika ada saudara, kerabat atau siapapun itu yang meninggal sebelum ramadhan dapat ditanya dan disuruh memilih, mereka lebih memilih di angkat nyawanya saat ramadhan, atau saat ramadhan telah usai. bak ibu-ibu yang sedang lengah oleh dapur dan baru sadar telah melewatkan grosir baju murah. Sesal.

Masihkah kita hanya begini-begini saja saat ramadhan hadir? Inilah bulan berpesta. Gempitanya mengalahkan berbagai ajang Fair,Festival atau party-party yang lain di muka bumi ini.

Ahh…Ramadhan memang penuh misteri. Ada saja daya magis yang di hadirkannya pada manusia. Semoga kita menjadi hamba yang terbius daya magis itu, menjadi hamba-hamba yang benar-benar masuk golongan Muttaqin. Allahumma Aamiin.

Masih belum semangat untuk menyambut ramadhan? Masih belum semangat untuk menghirup udara yang teduh itu? Semoga salah satu cerpen karya kang Agus Noor ini membius anda, larut dalam magis ramdhan. cerpen ini saya nuqil dari blog pribadi beliau : 

IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI



BETAPA menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…
Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya.
Segera ia mandi, keramas. Menyisir rambut dan memotong kuku, sembari bersiul-siul kecil. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih, rapi, dan wangi. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Setiap menjelang Ramadhan, ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Saat Ramadhan kemarin, ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Dan tadi, ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Melipat selimut. Merapikan pakaian. Menyemprotkan pewangi ruangan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian…
Ia berdiri di ambang pintu, memandang langit siang yang terang, sembari terus bersiul- siul ringan.
BEBERAPA tetangga—yang tengah duduk menggerombol – memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu, dan segera saling bisik. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti, mengerut menatap laki-laki itu. Langsung, seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan.
Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. Berhari-hari. Kadang berbulan-bulan. Bila pulang, ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Sesekali, beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Bergegas. Memakai jaket kulit hitam. Menenteng koper besar, seperti kotak tempat menyimpan gitar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Entahlah. Sebab, banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Mungkin ia rampok. Lihat saja tampang seramnya. Tato di lengan kanan. Parut luka seputar pundak, seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan, seperti mengawasi. Mungkin intel. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia seperti tak mau dikenali. Menutup diri. Misterius. Aneh.
Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu, memandang entah apa. Rutin yang ganjil. Menjelang Ramadhan ia muncul. Beres-beres kamar. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur.
Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sering, ia terlihat merokok siang hari. Tiap sore ia keluar. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama, tapi pergi ke kuburan. Ini yang membuat kian penasaran. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki- laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita, betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput, menyapu, atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Dan orang-orang merinding mendengarnya.
Para tetangga jadi gelisah. Barangkali ia dukun. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu…
MAYAT-MAYAT yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka, mereka mendengis bengis. Mengepungnya. Kulit wajah mayat- mayat itu meleleh, seperti lilin panas mencair. Ia mengerang, mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Wajah- wajah yang membuatnya mengerang panjang.
Ia tergeragap bangun. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Mati dengan tenang, di bulan Ramadhan. Meski ia tahu, sebagai seorang pembunuh bayaran, ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mungkin, seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia terkapar, memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan.
Ia pun suka menikmati saat- saat seperti itu. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan…
Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia selalu ingin berada sangat dekat, setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Umur tujuh tahun, diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi, membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Kamu pantas jadi tentara, kata teman-temannya. Dan ia membusung bangga.
Memang, ia suka membayangkan diri jadi tentara. Di kampungnya, orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir, saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Orang- orang mengerubung, tak ada yang berani menghentikan. Alangkah hebatnya jadi tentara, bisa memukuli orang sepuasnya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dikirim ke medan perang. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang, tertib, dan disiplin. Dan itu disukai komandannya.
”Kamu punya bakat bagus. Percuma kalo cuma jadi tentara. Paling mentok jadi sersan,” kata komandannya. Lalu sepulang perang, ia diberinya pekerjaan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat, karena pejabat itu pingin kawin lagi. Lalu beberapa order ringan lainnya. Membunuh seorang pengusaha. Menghabisi seorang wartawan. Seorang hakim. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Benar kata komandannya. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan.
Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Tempat menyembunyikan diri. Sumpek bau comberan. Tapi membuatnya merasa aman. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia akan tinggal di rumahnya, nanti bila sudah berhenti.
Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa menderita sakit jiwa.
SAMPAI satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan.
Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Dan ia mulai mengawasi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Kulitnya yang coklat resik. Rahang terkesan pipih, membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Sorot matanya tenang. Bicaranya santun. Ia heran, kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Tugasnya hanya membunuh. Tanpa jejak. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan…
Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia tak terlalu menyimak. Sepotong- sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dan ia tersenyum. Mencibir. Getir. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan?
Semua sudah sesuai rencana. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan, lalu mendorong mobil ke jurang.
Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang, ”Aku tahu, kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Karena itulah, aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku, tak perlu repot-repot membunuh yang lain…”
Ia tak tahu, kenapa mobil perlahan berhenti. Ia tak mengeremnya!
”Mari kita turun,” ajak Kiai Karnawi. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Sayang kan, itu mobil mahal. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.”
Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi tolong, yang pelan. Jangan sampai aku kesakitan ya, hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Lalu menggelar sajadah. Ia meraba belati. Gemetar tak yakin. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat, ia hanya berdiri gamang.
”Sekarang, lakukan tugasmu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Kalau boleh memilih, aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Enggak usah merepotkan sampeyan…,” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan.
Ia merasa senja meremang. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Terdengar letusan. Senyap. Kelebat bayang burung menyambar. Kemeresek daun jati jatuh. Pelan. Lengking gagak di kejauhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Singup. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya, dan kini memburu kematiannya.
Ia mulai diusik gelisah. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kematian di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia pun kemudian selalu berharap, diperkenankan mati di bulan Ramadhan.
Dan semoga saja, ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Amin.
Yogyakarta, 2005
Catatan:
Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen saya, Potongan Cerita di Kartu Pos, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS.  Saya baru saja mendapat pemberitahuan, kalau buku kumpulan tersebut mendapatkan Anugerah Sastra tahun 2009, dari Pusat Bahasa Jakarta.