Wednesday, May 27, 2015

Filled Under:

SANTRI NAKAL, AKIBAT TIDAK TAAT [ANEKDOT]

Alkisah terjadi sebuah paceklik disebuah negeri. Kemarau dan kelaparan melanda. Beberapa santri ber-inisiatif sowan kepada pak kyai perihal ini. Pak kyai kemudian mengajak para santri untuk naik kesebuh bukit. Sebagai santri yang taat, semua santri mengikuti instruksi pak kyai. Namun berbeda dengan si fulan, ia terlihat dongkol.

“Sudah lapar, haus kita malah di suruh naik ke puncak gunung, bagaimana pak kyai ini” gerutunya dalam hati.

Sampai diatas gunung, pak Kyai memerintahkan santrinya untuk turun lagi.
“Ambil batu dari bawah sana, bawa naik ke sini, ambil yang terbesar, sekuat kalian membawa.” Titah sang kyai, guru mereka.

Semua santri ridho dah iklas saja menerima titah tersebut, sedangkan si fulan, masih saja ngedumel.

“Ini pak kyai gimana sih, udah sampai diatas disuruh turun lagi, nggak sekalian tadi aja nyuruh mbawa batu nya.”

Akhirnya, si fulan tidak mengikuti titah pak kyai sepenuhnya, ia hanya mengambil dan membawa batu kecil, capek. Sedangkan santri lain dengan semangat membopong batu terbesar yang mampu mereka bawa meski dalam keadaan lapar.

Sampai di atas gunung, pak kyai menyuruh santri-santrinya bersila dan meletakkan batu di depan mereka duduk. 

“Mari kita membaca al-fatihah…lahumul fatihaaah.” Pimpin sang guru

Ajaib, batu-batu yang dibawa tadi menjadi kue yang dapat dimakan, besarnya seukuran batu-batu yang dibawa. Sementara si fulan, karena membawa batu yang kecil ia hanya mendapatkan kue yang kecil pula, nasib.

Kemudian pak kyai menyuruh santrinya untuk kembali ke bawah. Mengambil batu yang sedang-sedang saja. Tak ingin rugi, si fulan mengira jika ia mengambil sedang dan kemudian kembali menjadi kue, maka habislah dia mendapatkan kue sedang, maka ia mengambil batu besar, sangat besar. Sedangkan santri lain mengambil batu yang sedang saja. 

Sesampai diatas gunung, pak kyai meminta santrinya untuk membacakan fatihah lagi. “lemparkanlah batu-batu kalian, kebawah…sejauh kekuatan kalian”.
Para santri melemparkan batu-batu mereka, pun si fulan. Pak kyai berkata, “seberapa jauh batu itu terlempar, itulah ukuran rezeki dan umur kalian.” 

Si fulan menelan ludah, batu yang ia bawa terlalu besar, ia hanya sanggup melempar tak jauh.

Pak kyai kemudian meminta kembali para santri untuk turun. Mengambil batu yang sedang-sedang segenggam saja, masing-masing santri 2 buah batu dengan ukuran sama. Semua santri turun dengan semangat mereka berlari, hanya fulan yang terlihat kurang semangat.

Fulan mengambil 2 buah batu, ia mengambil batu besar dan kecil. Dalam benaknya jika ia mengambil batu sama besar kemudian diatas disuruh melemparkan lagi, maka matilah dia hanya mampu melempar dengan jarak yang pendek. Jika ia mengambil batu kecil kemudian diatas jadi kue, sedikitlah jatah makannya. Sebagai tindakan prefentif maka ia mengambil 2 batu berbeda ukuran, besar dan kecil. Lain dari santri yang lainnya yang mengambil batu dengan ukuran yang sama, besarnya pun tak lebih dari genggaman.

Sampai diatas, pak kyai menyuruh santri-santrinya memasukkan 2 batu yang barusan dibawa santirnya ke dalam sarung masing-masing. dan apa yang terjadi? 




Sial bagi si fulan, Jeng-Jot! Ia harus berjalan dengan agak miring mulai saat ini. Ganjaran santri yang tak taat perintah dan titah.

0 komentar:

Post a Comment